Kebhinekaaan adalah Indonesia, kelemahan atau kekuatan, kita yang menentukannya

Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 12 Maret 2017

Rumah Tangga


Poin 1 Suami tugasnya bekerja, istri tugasnya mengurus rumah dan anak anak

Poin 2 Kalau suami bekerja istri bekerja, berarti mereka berdua mengurus rumah dan anak anak

Poin 3 Kalau Suami tidak bisa mengurus rumah dan anak anak, kembali ke poin 1

Simpel

Ilustrasi: Weknowyourdreams.com

Sabtu, 11 Maret 2017

Jalan damai


Sebuah posting di fesbuk dengan ide "Menanamkan Mental Paranoid Melalui Berita Hoax", membuat saya tertarik untuk menelusurinya.

Coba ditelusuri, ternyata saya ketemu dengan website jalandamai.org, dan scanning sekilas menunjukkan bahwa ide tentang ketersediaan konten pendidikan yang miris, ternyata telah memiliki mentor yang sangat inspiratif, dan layak untuk dicontoh.

Apa itu jalandamai.org?

www.jalandamai.org merupakan media online yang bertujuan berbagi pengetahuan, mengembangkan, dan menanamkan pemikiran yang ramah dan toleran. Di jalandamai.org pembaca akan disajikan sejumlah edukasi yang argumentatif dan kritis terkait dengan berbagai ihwal sosial dan kemasyarakatan. Selain berbasis pada analitik dan data artikel yang kami sajikan juga memuat pendekatan historis sebagai cara memahami realitas kekinian.
Dan hebatnya, media ini menitikberatkan pada kajian sejarah dan analitik yang bertujuan melahirkan gagasan kehidupan yang lebih damai. Berdasarkan catatan kakinya, ini sudah dimulai sejak tahun 2015.

Petualangan mulai mengasikkan.

Womens Day


Happy womens day buat womens.

No womens no cry, no womens no superman, no womens no vb, no womens no honey, no womens no money.

Jadi... Yes womens lah.

Selamat hari perempuan internasional.

Bekerja atau tidak, itu adalah sebuah opsi, dan opsi tentu saja ada risiko, mengizinkan pasangan untuk bekerja berarti bersedia menerima keuntungan keuangannya, dan bersedia menerima risiko waktu mereka yang tersita.

Mengizinkan perempuan kita bekerja, berarti juga mengizinkan diri kita untuk bisa mengurus rumah dan anak-anak, mudah-mudahan bisa, rajin pangkal pandai kok, walaupun ngomong emang lebih mudah dari pada mengerjakannya.

Lindungi perempuan kita, orang yang paling tahu luar dalamnya kita, bunda anak-anak kita, masa depan kita, yang ada surga dibawah telapak kakinya.

Ilustrasi: Freepik

Berita


Dimana kita mencari berita?

Rasanya, posisi medsos yang dijadikan sebagai sumber berita, yang mengarahkan ke simpangsiuran pandangan.

Valid atau tidaknya berita yang kadang belum di klarifikasi, namun, dengan headline yang langsung mengarah ke kesimpulan, mengajak, memanggil ego kita.

Ego sebagai manusia Indonesia yang ingin berkontribusi disela kesibukan. Hal ini membuat adu domba mudah dilakukan.

Berita sebaiknya tetap dari profesi pencari berita, media, bukan media sosial. Mereka ada banyak, bisa dibuka masing-masing untuk melihat beda sudut pandang, dan disana ditarik lah simpulan.

Medsos?, Untuk bersosial.

Berita di media sosial?, Jika itu mengarah pada perdebatan dan saling menjelekkan, rasanya kita sudah tau seruan apa yang akan kita lakukan.

Gambar: Icytales

Abadi


Abadi (ilustrasi)
Kenapa kita ingin berketurunan?

Jawaban sementara yang saya dapat cukup aneh: karena kita ingin abadi.

Ada dua cara manusia mendapatkan keabadian. Keduanya didapatkan melalui karya.

Pertama, karya dalam bentuk seni atau ilmu pengetahuan. Ibnu sina adalah sebuah contoh bentuk keabadian, tidak ada satupun dari pengguna fesbuk yang pernah berkenalan dengannya, tapi sepenuhnya tahu, bahwa beliau adalah seorang muslim yang memiliki sumbangan terhadap dunia medis.

Begitu juga Al Khwaritzmi, Einstein, Sukarno, Hatta, Michael Jackson, Gus Dur, Tere Liye, dan lain-lain. Nama mereka tetap ada dalam sudut benak kita, walaupun mungkin secara langsung tidak pernah berhubungan. Mereka abadi.

Kedua, karya yang dalam bentuk keturunan. Insting dan sunnah yang menuntun kita kesana. Harapan "ingin abadi" yang tidak mungkin tersebut, diwujudkan dengan menghasilkan replika yang menyerupai kita dalam setiap sisi, ditambah dengan kesempurnaan lain yang kita harapkan, tapi tidak kita miliki.

Suatu kebahagiaan tertentu bagi orang tua jika anak nya dikatakan mirip dengannya. Dan memang benar, bahagia itu  sederhana.

Apa yang kita sajikan pada mereka (anak anak kita), itulah yang mereka tiru, apa yang kita lakukan dalam setiap detik kebersamaan, benar atau salah, itulah dasar pikir mereka.
Kebersamaan orang tua dan anak dimasa kecilnya lumayan sulit dilakukan untuk kondisi sekarang, dimana waktu adalah uang. Tapi saat bisa, jadikan itu berkualitas.

~Apapun karya kita, pastikan saat maut menjemput, kita meninggalkan sebuah Maha Karya. Amin.

Gambar: Aldakwah.org







Selamatan


Kemarin ngikutin selamatan calon anak Bapak Kos, istri beliau sudah berumur 4 bulan kandungannya.

Proseding yang saya ikuti mulai dari pengantar yang disampaikan oleh salah seorang alim ulama (ustad pertama), serentak semua orang yang hadir juga membaca yasin.
Melalui sebuah baha
Ceramah 7 menit yang disuarakan oleh salah seorang alim ulama (ustad kedua).

Ceramah tentang maulid nabi Muhammad SAW (ustad ketiga(, yang ini cukup panjang, berisi ajakan tentang maulid, penjabaran tentang tuduhan Maulid ini salah, dan kemudian ajakan untuk bershalawat.

Secara beriringan dengan dikomandoi oleh ustad ketiga, dibacalah shalawat, yang diperindah dengan gendang, dan beberapa alat musik lain (saya di dalam ruangan, jadi hanya kelihatan ustad ketiga dari samping).

Shalawat dilanjutkan dengan nyanyian, setelah shalawat tadi, ustadz ketiga kembali menyampaikan ceramahnya, tentang dakwah melalui seni, dengan ide populer:
Dengan seni hidup jadi indah, dengan ilmu hidup jadi mudah, dengan quran hidup jadi terarah.

Nyanyian (masih tentang shalawat), dihiasi dengan sawer, yang dalam definisi saya sebelumnya cukup "kotor", dalam sawer kali ini saya melihat pihak tuan rumah melemparkan permen, dan juga uang!
Terlihat para hadirin tertawa, dan bersenda gurau pada fase ini.

Sebuah acara yang diisi dengan formal ibadah, berbagi pahala, dan diisi dengan hiburan, amal, dan canda.

Islam itu indah.

Gambar: Qoshidahpeshona



Lupa


"lupa alid ayah"

"jangan ngomong lupa nak, itu akan membuat kita percaya bahwa kita pelupa"

"...tapii..., mmm, gimana ngomongnya ya yah?"

"bilang saja tidak ingat, itu lebih baik"

"iya ayah, oh ya, dah jadi ayah donlodkan game kemaren?"

"aduh, lupa ayah nak"

"tidak ingat ayah, jangan ngomong lupa, itu akan..."

"iya...iyaaaa... ayah bilang jangan ngomong lupa, kebetulan saja tadi tadi ayah lup... eh.. tidak ingat saja itu"

~konsisten untuk tidak konsisten adalah suatu bentuk konsistensi juga, syalalalala

Gambar: Gifmagazine