Kebhinekaaan adalah Indonesia, kelemahan atau kekuatan, kita yang menentukannya

Diberdayakan oleh Blogger.

Tampilkan postingan dengan label Minang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Maret 2017

Merantau


Maluncua denai nak lakeh
Ndeh mandeh tolong doakan
Nan kok mujua bundo malapeh
Co ayam pulang ka pautan

Bait di atas adalah bagian dari lagu populer Efrinon, penyanyi papan atas Minang, menceritakan kesedihan yang dialami seseorang dalam memulai perjuangan Merantau. Yang diberi tajuk Kelok Ampek puluah ampek (Kelok 44).

Bait di atas secara sederhana saya artikan sebagai ini : "mohon restu bunda dalam perantauan ini, dengan doa bunda, segala Jaya dan kesuksesan akan kubawa pulang, dan aku akan kembali secepat dan seindah yang aku bisa".

Ketika Bait ini dimulai, rata rata perantauan cengeng seperti saya akan mulai merasakan yang namanya haru, mata berkaca kaca. Dan memang sepertinya lagu ini memiliki sebuah daya magis magis, dengan latar talempong nya pastinya, terlebih setelah sampai pada bait berikut :

Tabayang rantau nan ka den hadang
Di mako badan beko menumpang
Saat itulah!, dalam beberapa saat semua pendengar akan sampai pada fase "jatuah badarai aia mato", kalau di Indonesia kan, "jatuh berderai air mata" atau kalau kita sederhanakan, nangis, cobalah. Gantung kepala, saya di monas, kalau ini tidak terjadi. Mp3 rusak atau lampu mati ndak di itung ya, catet.

Oh ya, ada kata kunci dalam merantau di minang kabau
Karatau madang di hulu
Babuah babungo balun
Marantau bujang daulu
Dikampuang paguno balun
Sederhananya, lagi lagi versi saya, adalah "paguno balun", artinya selagi masih belum memberikan kontribusi apa apa di kampung, tempuh lah jalan merantau, dan berikan kontribusi itu.

Toh definisi merantau sangat luas, tinggal sendiri, tidak bersama orang tua, juga termasuk merantau. Berfikir sebelum bertindak juga merantau, hijrah dalam sikap yang lebih baik juga merantau, asal jangan didefinisikan sama dengan Merantau nya Iko Uwais sajah, mati pas ending soalnya wkwkwk.

Nah, silahkan dicoba, marantau nya, bukan nangis nya, kalau nangis anak sd mah bisa. Toh koridor nya jelas, "paguno balun".

Ilustrasi: Blogspot.com

Nan Tido Manahan Hati


Kayu aro balapau nasi
Dingin - dingin disuka rami
Lah biaso galak dinan lai
Rang nan tido manahan hati
Iyo.... iyo.... manahan hati
Iyo.... rang nan tido manahan hati
Santano bapisah
Indak denai bakaciak hati
Sajak dulu denai lah tau
Mimpi - mimpi lah tingga mimpi

Ini adalah beberapa penggal bait dari lagu Zalmon, judulnya "Nan tido manahan hati", kaset ini (waktu itu berbentuk pita) merupakan salah satu kaset paling populer di minang pada zamannya. Kalau level film, platinum lah. Saingan terberat waktu itu adalah Misramolai dengan Saluang Dangdut, Eri Martha dengan Ginyang, dan Melati dengan Kutang Barendo nya.

Dalam kaset Zalmon tersebut terkumpullah lagu-lagu dalam jenis Ratok, lagu sedih, melow bahasa sekarangnya. Hebatnya lagu minang waktu itu, setiap pendengar akan berkata "ini gue banget!", karena indahnya sastra yang dimainkan, semua orang merasa lagu itu memang ditujukan untuknya. Plusnya lagi, suara om Zalmon emang tanpa tanding pulak.

Bagian yang menjadi populer pada kaset Nan Tido Manahan Hati ini adalah satu judul lagu: "Salamaik Jalan Buya", lagu yang menceritakan tentang telah berpulangnya Buya Hamka. Tokoh ulama kebanggaan Sumatera Barat.

Bagian paling mengena dalam lirik ini adalah sulitnya mencari pengganti Buya Hamka.

Tagamang kampuang jo bangso
Kahilangan umaik saagamo
Marapi jo Singgalang manangih tatahan
Danau Maninjau ditingga buyanyo
O Tuhan Kuaso janjikan sarugo, iyo … iyo …
Alam salamo nyo kikia
Nan intan yo jarang basuo
Batahun jo babilang maso
Balun tantu dapek nan sarupo
Disitu mangkonyo ranuang marusuahkan hati

Kalau saya terjemahkan dalam bentuk kalimat kira-kira begini bunyinya.

Telah tergamang kampung halaman dan bangsa
Telah kehilangan umat seagama
Gunung merapi dan gunung Singgalang telah menangis sesenggukan
Danau Maninjau telah ditinggalkan oleh Buyanya

Allah yang maha kuasa menjanjikan surga

Alam memang selamanya telah berlaku kikir
Kalau yang namanya intan, pastinya jarang bertemu
Walaupun nanti bertahun tahun setelah ini
Belum tentu akan ada pengganti Buya Hamka

Disitulah otak ini berfikir, dan hati ini menjadi rusuh

Ilustrasi:  Ytimg.com

Selasa, 12 Mei 2009

Balada di Tanjung Mutiara


Salah satu yang harus dijaga dari Sumatera Barat selain pendidikan (karena kita dulunya dikatakan sebagai industri otak) adalah sektor pariwisata. Pada hari senin pas acara maulid nabi dulu, saya dan keluarga berkesempatan untuk mencoba 2 buah objek wisata yang berujung dengan sedikit kekecewaan. 2 buah objek wisata kebetulan yang ada hubungannya dengan danau singkarak. Karena Batusangkar adalah kota di gunung tentu saja melihat danau diharapkan bisa memberikan pengalaman yang lebih.

Pertama kami menuju daerah Kacang, katanya ada sebuah objek wisata dengan judul Dermaga Singkarak. Kami berangkat dari Batusangkar, lewat simawang, melalui jalan beraspal yang entah kapan selesainya, penuh dengan kabut dan berlobang. Under construction, begitulah pesan yang muncul. Transportasi untuk pariwisata adalah salah satu faktor yang penting, keberadaan jalan, yang kadang hanya bisa dipakai separuh betul-betul mengganggu transportasi.

Setelah sampai di Ombilin, kami berbelok ke arah kiri untuk menuju Dermaga Singkarak, hari sudah menunjukkan pukul 10, jalan-jalan disebelah kanan dihiasi dengan berbagai macam restoran, namun sayangnya belum satupun yang buka. Sudah buka sih, namun sambalnya ndak ada, yah, inikan dihitung belum buka juga. Akhirnya nemu juga restoran yang sudah buka, beli nasi. Dan melanjutkan perjalan ke Kacang.

Sesampai di dermaga singkarak, sungguh tidak terbayangkan. Awalnya ketemu dengan beberapa pasang anak SMU yang berseragam olah raga, warna kuning dan ada juga yang berwarna biru. Umumnya mereka naik motor ke sini. Hmm... anak muda, sudahkah mereka bisa memikirkan diri mereka sendiri, sehingga sudah berani untuk mulai berpikir belajar untuk mencari pasangan?. Selanjutnya kita mulai menelaah situs ini, waw..... ditepi dermaga singkarak tersebut memamng kondisinya sudah sangat tidak terurus, kedai-kedai yang ada tutup semua, kecuali satu-dua yang buka. Lokasi intinya cuma ada 3 buah payung dari beton untuk duduk-duduk. Yang paling menyedihkan dihadapan kami, rombongan bebek-bebek peliharaan sedang enak bermain air, air danaunya kotor. Menyedihkan sekali..., karena merasa tidak mungkin untuk mengembangkan tikar disini karena baunya yang lumayan, kami bergerak balik sekarang menuju Tanjung Mutiara.

Di tanjung mutiara, dari pintu masuknya, setidaknya ada 3 buah ketiding datang silih berganti ke mobil yang ditumpangi yang intinya meminta sumbangan. lanjuuut... kami sampai di tanjung mutiara, eh jalannya ada 2 pertama kami belok kekiri. Disini sudah menanti bapak petugas dari Nagari (kami disodori karcis Rp. 1.500,- per penumpang yang diatas namakan surat dari Wali Nagari, nebak2 saja sih, soalnya disana tulisannya SK WN). Rasa-rasanya dulu waktu kami ke tanjung mutiara, ada buaian nya loh?, kok sekarang tidak ada ya?... lihat kiri kanan, ternyata arah yang kami tuju ternyata disebelah yang satu lagi. Ujung-ujungnya kami tahu bahwa disini disebut dengan Tanjung Mutiara Selatan, jadi kami bergerak ke bagian yang satu lagi, walaupun sebelumnya ditahan oleh bapak petugas dari Nagari "disini saja lah pak, orang disana mainnnya juga nanti kemari kok..", begitu pesannya. No problema lah pak, kami mau main buaian :D.

Di Tanjung Mutiara yang satu lagi kami juga diminta lagi untuk membayar dengan karcis dari Dispenda, harga sama Rp. 1.500,- per penumpang. ketika dibilang kami sudah membeli karcis, si petugas dengan ramah bilang "Coba lah lihat pak, disini dari dispenda, ini yang resminya. Kalau sudah beli karcis ini tidak dipungut biaya parkir lagi kok...". Lah kalau yang disini resmi, yang disana apa dunk?, karena tidak mungkin lagi berbalik, lagipula untunglah cuma Rp. 1.500,- an kami segera saja membayar dan langsung menuju hotspot area. Duduk-duduk, kembang lapiak, main buaian liat-liat danau, yahh... libur kecil kaum kusam kata Iwan Fals.

Dalam perjalanan pulang, sekali lagi dihambat oleh ketidingers. Dan ketika akan keluar kejalan raya, ada seorang bapak-bapak yang meminta uang, ndak tau uang apa, non karcis, dengan galaknya. Rp. 2.000,- , kasih daaaah...., dan kami bertolak lagi menuju ombilin - simawang - terus ke Batusangkar.

Dalam perjalanan pulang kami berfikir, untungnya biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar. Namun para wisatawan manapun tentu tidak ingin merasa tertipu!, walau hanya seribu atau dua ribu rupiah, namun pelayanan Tiga Pintu di Tanjung mutiara harus segera diperbaiki. Kalau tidak jelas ini bisa memberikan dampak buruk kepada jumlah wisatawan, lokal dan nasional.

Selasa, 24 Februari 2009

Filem luar Versi Padang copas dari Sewot Bana wakakakaka


www.pelaminanminang.comEnemy at the Gates = Lah tibo lawan di pintu


Batman Forever = Kalalauang


Remember the Titans = Lai Takana jo si Titan


The Italian Job = Karajo maliang


Die Hard = Payah matinyo


Die Hard II = Alun Juo Mati Lai�?


Die Hard III With A Vengeance = Ondeh Mandeh.. ndak juo mati mati doh�?


dewa_amra: Bad Boys = Anak Kalera


You've got Mail = Ado surek tuh ha�


Paycheck = Pitih Gaji


Independence Day = Hari Rayo


The Day After Tomorrow = Saisuak


Die Another Day = Ndak kini matinyo..?


There is Something About Marry = Manga si Merry yo..?


Silence of the Lamb = Kambiang pangambok


x-man=si man kaliang


street fighter=bacakak di tangah labuah